MUNDEK, ROLLE id–Bernadus Saduk, alias Nadus, si kuli tinta di Rote Ndao ini tak hanya menulis berita, tapi menanam harapan bagi keluarganya.
Dari kebun yang ditanam kacang tanah, Om Nadus memetik makna kerja keras dan kemandirian sejati.
Membuktikan bahwa pena dan cangkul bisa berjalan seirama.

Di mana, siang menulis berita, pagi merawat kebun di tanah yang ia garap, melahirkan kisah perjuangan tanpa banyak bicara.
“Harus bangun pagi untuk siram,” ujarnya singkat.
Kalimat sederhana itu menyimpan disiplin yang membangun empat kebun kacang di atas lahan yang berukuran hampir dua hektare.
Dan tiga bulan kerja kerasnya terbayar saat kacang tanahnya tumbuh subur, laksana hasil keringat yang suci.

“Dulu hasil kacang tanah beta pakai beli motor pompa air. Dari situ mulai tambah kebun satu, dua dan sekrang empat kebun,” katanya.
Setiap panen, hasil jualan bisa tembus puluhan juta rupiah. Yang diakuinya Rp. 120 per blek. “Sudah abis sekitar 200-an blek. Bisa beli motor buat liputan juga,” tambahnya sambil tertawa ringan.
Om Nadus bukan petani biasa. Ia simbol keteguhan: bahwa kemajuan tak lahir dari bantuan semata. Tapi ia mampu menulis dengan tinta di kertas, dan menulis dengan keringat di tanah.
“Yang penting kerja dengan hati. Tuhan pasti buka jalan,” tutupnya, dengan nada yang mantap, jujur, dan penuh syukur. (*/ROLLE/JIT)






