PAPELA, ROLLE id–Seorang Ibu Hamil (Bumil) dengan usia kandungan jelang bersalin, harus menelan kenyataan pahit bersama suami dan anak-anaknya yang tidak ‘diijinkan’ berangkat ke Kupang.
Fakta itu mencuat dari postingan akun Facebook @Nolvi Riani dalam bentuk Curahan Hati (Curhat) di grup Anak Rote Anti Koruptor, Selasa (24/3).
Curhatnya ternyata bukan sekadar berkeluh kesah. Tetapi menyampaikan potret nyata tentang rapuhnya sisi kemanusiaan dalam pelayanan transportasi laut, Bahari Express

Yang terbaca dalam postingan, beserta kronologi sesampainya di pelabuhan Papela, Kecamatan Rote Timur.
Ke sana, mereka berangkat lebih awal, dengan tujuan bisa membeli tiket offline dan berangkat ke Kupang. Mengingat kondisi kehamilannya yang tinggal menunggu waktu persalinan.
“sampai d pelabuhan, buru bagsi antar ktng pnk barng ke ats kapl dan pak suami ikut utk liat barg,” tulis akun Facebook @Nolvi Riani.

Karena suaminya harus memastikan barang bawaan aman di atas kapal, akhirnya Bumil itu harus berdiri dalam baris antrian. “trpaksa b ju ikut antri,” ungkapnya, dengan berusaha menahan beban perutnya
Namun karena kondisinya yang tidak bisa berdiri lama untuk mengantri, memantik empati penumpang lainnya. Bumil itu diminta duduk menunggu di ruang tunggu.
Setelah memastikan barang bawaan aman, suaminya mengambil posisi di barisan antrian. Yang sambil mengantri, disampaikan permintaan atas kondisi istrinya serta barang bawaan yang sudah di atas kapal.

Sayangnya, respons petugas kapal Bahari Express betul- nihil. Permohonan itu seolah tidak memiliki arti. Tidak ada kebijakan cepat, tidak ada empati, dan tidak ada langkah konkret untuk membantu calon penumpang yang hamil tua.
“paksu (pak suami) memohn kepada petugas baik di loket maupun di kpal namun mereka tetap tidak respon,” tulisnya dalam postingan.
“petugas tidak py hti nurani ..smapi kapal berangkat kekupang bw katong pnk barng, b pnk ana yg kecil menangis histeris,” ungkap Bumil itu. (*/ROLLE/JIT)








