BA’A, ROLLE.id–Rote Ndao hari ini sedang diuji pada titik paling sunyi, disaat listrik yang digadang-gadang ‘untuk kehidupan yang lebih baik’ mulai bermakna terbalik.
Kondisi ini dipicu dengan adanya informasi pemadaman yang terlanjur dijadwalkan pihak ULP Rote Ndao, pada jam-jam sibuk. Waktu potensial bagi pergerakan ekonomi dan ruang sosial sedang berdenyut.
Hal itu kemudian memunculkan anggapan bahwa gelap bukan lagi persoalan cahaya. Melainkan tanda lemahnya keberpihakan kebijakan.

Sorotan tajam itu datangnya dari bawah. Disuarakan melalui grup Facebook Anak Rote Anti Koruptor, akun @Bartolomeus T, menuliskan kegelisahannya yang juga dirasakan tak sedikit warga Rote Ndao.
Dengan sadar disampaikan sebagai masyarakat awam, namun jujurnya menyebut pasokan daya kelistrikan Rote Ndao telah memasuki fase kritis.
Dalam postingannya, Bartolomeus membandingkan kondisi saat ini dengan masa-masa sebelumnya. Bahwa, pemadaman serupa juga pernah terjadi, tetapi tidak sampai menyentuh tempat-tempat vital, yang akhirnya dikorbankan.

Pasalnya, arah kebijakan yang semestinya berpihak pada denyut kehidupan masyarakat, dirasanya mulai hilang dengan ketiadaan listrik di jam-jam ‘pelarian’ warga.
Akibatnya, usaha kecil terhenti, keramaian akan menghilang, dan kota kehilangan wajahnya. Dan situasi Keamanan dan ketertiban masyarakat pun ikut terdampak di malam hari yang tanpa listrik.
“Yang terjadi sekarang justru pada saat jam-jam sibuk, area-area vital malah terjadi pemadaman,” tulis akun Facebook @Bartolomeus, Jumat (23/1).
“Ini sebagai warning, mohon dikaji kembali jadwal ini,” sambungnya dalam isi postingan, dengan menyertakan jadwal pemadaman listrik dari ULP Rote Ndao. (*/ROLLE/JIT)







