Cerita di Balik Laporan Online Kades Lekona, LPPM ITB Gandeng Kemendesa PDTT Bantu Embung untuk Petani

LEKONA, ROLLE.id–Ada sebuah kisah yang terselip di balik terbangunnya sebuah sarana penunjang aktifitas pertanian di Desa Lekona Kecamatan Pantai Baru.

Kisah ini, dimulai dari laporan Kepala Desa (Kades) Lekona, Stefen Julianus Beda, yang disampaikan secara online. Bahwa terdapat ratusan hektar lahan potensial di tiga kompleks persawahan membutuhkan perhatian.

Dengan masing-masing luasan yang dilaporkan adalah, kompleks persawahan Selunilun (sekitar 50 Ha), Haebupu (sekitar 30 Ha) dan Lapudale (sekitar 60 Ha).

Hal tersebut dilaporkan melalui aplikasi ‘Desanesha’, yang dikembangkan oleh Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM), Institut Teknologi Bandung (ITB).

Di mana, aplikasi tersebut oleh LPPM ITB, disediakan untuk memudahkan para Kades menyampaikan masalah nyata di desanya masing-masing, khususnya untuk daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T).

Momen foto bersama kehadiran tim LPPM ITB, di kantor Desa Lekona, beberapa waktu lalu. Foto : Dok. Tim LPPM ITB, for ROTE MALOLE.

“Iya, beta (saya) ada akses masuk, angkat permasalahan tentang pertanian yang dihadapi para petani lewat aplikasi itu,” kata Kades Lekona, Stefen Julianus Beda, yang dikonfirmasi ROTE MALOLE, Kamis (30/11).

“Setelah itu, ada tim dari LPPM ITB, dan Kemendesa PDTT, langsung turun lokasi. Dan kini sudah ada hasilnya di desa kami,” sambungnya.

Terpisah, ketua tim tim LPPM ITB, Mohamad Nur Heriawan, yang dikonfirmasi ROTE MALOLE, membenarkan hal tersebut.

Dirinya didampingi Arie Naftali Hawu Hede, dan Tomy Alvin Rivai. Keduanya adalah dosen, dan peneliti dari Kelompok Keahlian Eksplorasi Sumber Daya Bumi, Fakultas Teknik Pertambangan dan Perminyakan ITB.

Bahwa, timnya bekerja sama dengan Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendesa PDTT).

Aktifitas tim LPPM ITB, saat melalukan survei geolistrik, di dalam kompleks persawahan, wilayah Desa Lekona, beberapa waktu lalu. Foto : Dok. Tim LPPM ITB, for ROTE MALOLE.

“Kami tiba dan disambut begitu di pulau Rote, Minggu (16/7). Kemudian esoknya, Senin (17/7) tim menuju Desa Lekona,” kata ketua tim LPPM ITB, Mohamad Nur Heriawan.

“Selain dosen peneliti, ada tiga mahasiswa yang tergabung dalam tim, yang sekaligus memanfaatkan kegiatan ini untuk Kerja Praktek (KP) serta penerapan program Merdeka Belajar-Kampus Merdeka (MBKM),” sambungnya.

Ketiga mahasiswa yang disebutnya adalah, Kokoh Syahwalid, I Gede Surya Pratama Djelantik, dan Yubi Wilisetya, dari Program Studi Sarjana Teknik Pertambangan FTTM ITB.

Yang setibanya di Desa Lekona, langsung dilakukan verifikasi kondisi geologi permukaan, survei lokasi ketersediaan sumber air permukaan dan air tanah dangkal (embung, mata air, sumur gali),” ungkapnya.

Kemudian, survei geolistrik, pengukuran elevasi muka air tanah dangkal, serta pengukuran kualitas air permukaan dan air tanah dangkal.

Aktifitas tim LPPM ITB, di dalam kompleks persawahan, wilayah Desa Lekona, beberapa waktu lalu. Foto : Dok. Tim LPPM ITB, for ROTE MALOLE.

“Interpretasi sementara yang dihasilkan adalah, teridentifikasi adanya kantung-kantung atau lensa batugamping yang diduga menyimpan air. Potensi itu terdapat di kedalaman sekitar 50-80 meter. Sedangkan lapisan pembawa air utama, diduga berada di kedalaman di bawah 120 meter,” ungkapnya.

“Setelah itu, tim melakukan pengolahan data terhadap elevasi muka air tanah dangkal, dan kualitas air serta batas daerah tangkapan air hujan dari data topografi,” ungkapnya lagi.

Lanjutnya, bahwa dengan kehadiran timnya, sedikit menjawab rintihan petani. Ada sebuah embung yang ukurannya tidak terlalu besar, prioritas pertama dibangun untuk dimanfaatkan kompleks persawahan di Lapudale.

Harapnya, dapat menampung limpasan air hujan saat musim basah, sehingga bisa dimanfaatkan saat musim kering/panas.

Prosesi serah terima embung tim LPPM ITB, kepada pemerintah Desa Lekona, beberapa waktu lalu. Foto : Dok. Tim LPPM ITB, for ROTE MALOLE.

“Ada sebuah embung kecil dibangun di kompleks persawahan Lapudale, dan sudah bisa dimanfaatkan. Ukurannya, tak terlalu besar, yakni panjang 25 meter, lebar 25 meter, dan kedalaman sekitar 2 meter,” kata Mohamad Nur.

“Dari embung itu, minimal dapat dimanfaatkan untuk menyiram tanaman hortikultura saat masuk musim kemarau,” ungkapnya.

“Dan itu sudah dilakukan serah terima oleh LPPM ITB kepada Kepala Desa Lekona pada Kamis sore (2/11). Yang diharapkan dapat melakukan skema yang sama pada tahun berikutnya untuk dua kompleks persawahan lainnya,” ungkapnya lagi, dengan menyampaikan terima kasihnya kepada sejumlah pihak.

“Terima kasih kami kepada bapak Filadelfia Fiah selaku TAPM P3MD Kabupaten Rote Ndao, Plt Camat Pantai Baru, bapak Micha Manubulu, dan Kepala Desa Lekona, Stefen Julianus Beda, yang sudah menerima kehadiran tim kami,” tutupnya. (*/ROLLE/ADV)

*Foto : Tim LPPM ITB, for ROTE MALOLE

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.