BA’A, ROLLE.id–Krisis listrik di Rote Ndao kini memasuki babak baru. Bukan soal kapal dan cuaca, tetapi, kejelasan soal realitas pemadaman listrik.
Ditambah postingan yang berseliweran di Media Sosial (Medsos), yang kebanyakan mulai mengarah terhadap dugaan penyalahgunaan Bahan Bakar Minyak (BBM).
Salah satunya yang malah meminta keterbukaan informasi dari pihak PLN Unit Layanan Pelanggan (ULP), soal layanan yang dirasa belum sejalan dengan stok BBM, serta dampak ikutan lainnya.
“Bantuan BBM 20 ton itu bisa membantu sejauh mana. padahal secara teknis bisa dihitung,” tulis akun Facebook @Ande Mbura, di grup Anak Rote Anti Koruptor, Senin (27/1).

“krn (karena) di balik pemadaman berkepanjangan, ada sekelumit permasalahan sosial yg (yang) terjadi di tengah tengah masyarakat,” sambungnya dalam postingan.
“jangan biarkan masy berpikir liar,” tulisnya bernada ksitis.
Manager PLN ULP Rote Ndao, Yohanes Fernades Lay, yang dikonfirmasi ROLLE.id (Rote Malole) merinci stok BBM, waktu padam, serta kemampuan jam layanan.
Yang dari keterangan resminya, sedikit bertolak-belakang dengan pelaksanaan waktu padam yang beredar luas di ruang publik.

Yakni, berdasarkan flayer PLN ULP Rote Ndao yang beredar, pemadaman dimulai tanggal 22 Januari 2025, pada pukul 16.00-24.00, dan menyala pukul 24.00-12, untuk penyulang Sasando, Onatali dan Lenguselu.
Dan di tanggal yang sama, pemadam terjadi pada penyulang Metina, Papela, dan Busalangga. Dengan waktu padam pukul 24.00-10.00, kemudian menyala pada pukul 10.00-12.00.
“Mulai padam 20 Januari 2026, stok BBM 193.052 liter. Estimasi daya operasi, ±4,8 hari” tulis manager ULP Rote Ndao, Yohanes Fernandes Lay, dalam room chat WhatsApp, Rabu (28/1). (*/ROLLE/JIT)






