BBM oh BBM, Sebotol 25 Ribu di Rote Ndao, Antrian Panjang Mengular Picu Kritis Mahasiswa Unstar

BA’A, ROLLE.id–Masalah kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) menyisahkan misteri yang belum terpecahkan di Rote Ndao.

Bertahun-tahun tetap mengulang dengan cerita yang sama. Menyuguhkan pemandangan memprihatinkan dalam antrian kendaraan bermotor yang mengular panjang.

Kendaraan roda dua berdesak-desakan dalam waktu yang lama untuk mendapat posisi paling depan demi dua sampai lima liter BBM.

Begitu juga untuk roda empat, yang berebut posisi dengan meninggalkan kendaraanya disiram embun dan panas matahari, sebelum memperoleh BBM bersubsidi di Stasiun Pengisian Bahan bakar Minyak (SPBU).

Kondisi ini beberapa kali memantik perhatian pemerintah dan aparat kepolisian. Tapi rasa-rasanya belum menemukan titik sasaran yang tepat.

Lembaga DPRD pun demikian. Tak jarang kritikan pedas dilontar kepada pemerintah sebagai mitranya. Manajemen SPBU apalagi.

Disemprot pertanyaan bertubi-tubi. Tetap saja BBM, serasa ‘menghilang’ disaat bangunan megah SPBU bertambah jumlah jadi empat unit.

Langkanya penggerak roda ekonomi ini, memicu tingginya harga jual di tangan pengecer. Melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET), dengan menabrak keputusan Bupati Rote Ndao nomor : 286/KEP/HK/2022.

BBM jenis Pertalite dan Pertamax, kini dijual satu harga, seharga Rp. 25.000 per botol.

“Rote harga bensin 1 botol Rp =25000,” tulis akun Facebook @Yonthan Rote Nathan.

Postinganya itu mendapat begitu banyak reaksi dan komentar. Salah satunya mencoba memprovokasi dengan menulis di dalam kolom komentar.

“Suda ktng sepakat sa,,pegawai jngan berkantor, petani jngan bertani lagi supaya bensin jngan nae harga,” tulis akun @Meldychyko Haning.

Terkini, empat SPBU yang ada di Rote Ndao, seolah terkepung kendaraan bermotor. Roda dua dan empat berburu tempat, dengan berdesak-desakan di area SPBU.

“Badan jalan su jadi tempat parkir oto (mobil) yang datang sebelum SPBU buka,” keluh Aser Menno, kepada ROTE MALOLE, Rabu (8/5).

“Bukan hanya di SPBU Sanggaoen, Metina, Longgo ju begitu. Di story teman dari Pantai Baru juga sama,” ungkapnya.

“Kalau oto, su parkir dari malam. Biar bisa dapat minya begitu SPBU buka,” tambahnya.

Keluhan yang sama juga dikeluhkan salah seorang warga desa Oenitas Kecamatan Rote Barat. Yang dua kali berturut-turut mengantri di SPBU Longgo.

Warga yang mengaku bernama Roni ini, mengeluh lantaran menunggu berjam-jam hanya untuk mengisi tanki sepeda motornya.

“Dua hari batong (katong) antri di Longgo. Di situ memang pakai batasan biar semua bisa dapat. Tapi itu harus tunggu dari jam 9 sampai jam 11 baru dapat,” kata Roni, yang mengaku tinggal di Dusun Rinalolon, Desa Oenitas.

“Katong berharap dari rumah pagi supaya bisa dapat cepat. Tau-tau tambah lama,” kesalnya.

“Coba kalau di pinggir jalan ada yang jual, pasti batong sonde pi buang-buang waktu untuk tunggu begitu lama di SPBU,” tambahnya.

Kondisi itu kemudian memantik respon dari lingkungan kampus, karena begitu khawatir terhadap dampaknya.

Bahwa, kelangkaan BBM, disebut sebagai ketidak-seteraan akses yang dijamin pemerintah kepada masyarakat dipimpin.

“Mencerminkan ketidaksetaraan akses sumber daya yang mendasar bagi kehidupan kami di pulau ini,” kata Yunor Lafu, salah satu mahasiswa Unstar yang berkuliah di fakultas hukum.

Menurutnya, kondisi tersebut mencerminkan ketidak-mampuan pemerintah daerah, yang berharap adanya pertumbuhan ekonomi bagi masyarakatnya.

Ditambah kondisi yang terus berulang, ia menduga ada praktik tak jujur di tingkat lokal, yang bisa berdampak kemana-mana.

“Kondisi ini menghambat aktivitas ekonomi dan sosial, yang memicu kekhawatiran,” ungkapnya. (*/ROLLE/JIT)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.